google-site-verification: google902125c799cddec3.html

Sabtu, 10 November 2018

Aku Ingin Hijrah(Cerpen)


“Kita cerai, Mas!” bisik seorang wanita.
Mata pria yang mengenakan jas hitam terbelalak setelah mendengar bisikan halus itu. Ia langsung menatap wanita yang saat ini telah sah menjadi istrinya. Baru beberapa menit ia mengucap ijab qabul. Tiba-tiba saja saat sedang duduk di pelaminan, Istrinya langsung membisikkan kata-kata yang aneh.
            Setelah itu, Pasangan suami istri itu menyalami para tamu undangan dengan wajah yang datar. Seperti tidak ada kebahagian dari mereka berdua. Para tamu undangan pun setelah turun dari pelaminan langsung membicarakan sikap aneh kedua pengantin baru itu.
...
            “Aku ingin hijrah, Yur!”
            Egha berbicara sambil matanya terus menatap ujung jalan. Yurika yang berada di sampingnya kebingungan dengan apa yang ditatap Egha. Ia pun memegang jidat wanita berkacamata itu, memastikan bahwa temannya baik-baik saja. Merasa penglihatannya terganggu, Egha pun langsung menepis tangan Yurika.
            “Apaan sih, Yur?”
            “Kamu yang kenapa? Ngomong, tapi tatapannya kosong gitu.”
            Egha pun bercerita panjang lebar. Ia tadi melihat seorang pria tampan, gagah berjalan melewati dirinya dengan pakaian yang terlihat agamis. Karena terpesona, mulut wanita itu tiba-tiba saja melontarkan kata-kata hijrah agar bisa mengenal dan dekat pria itu.
            “Ternyata gak cuma di mall, taman atau tempat-tempat asyik lainnya yang ada cogan. Di masjid banyak juga, ya?”
            Yurika yang cukup mengerti agama pun hanya tersenyum dan bangkit dari pelataran masjid lalu kemudian segera mengajak Egha pulang agar pikirannya tidak kemana-mana. Di perjalanan, wanita berkacamata itu kembali membicarakan hal yang sama. Sahabatnya heran, kenapa Egha untuk pria yang satu ini lebih agresif dalam bertindak.
            “Ayo ajari aku. Gimana caranya menjadi wanita yang baik sepertimu!”
            “Baik apa, sih? Aku masih belajar sama sepertimu. Egha, kalau kamu mau hijrah itu sangat bagus. Tetapi, niat kamu itu kurang bagus.”
            Egha pun terus mendesak sahabatnya itu agar mau membantunya. Namun, Yurika pun sama. Terus menerus menolak membantu, adu argumen pun terjadi sepanjang jalan. Kedua sahabat itu bersikukuh dengan pendapat masing-masing. Akhirnya, perasaan Egha pun menyerah duluan. Wanita itu langsung marah begitu saja kepada Yurika.
            “Dasar sombong! Lebih baik aku cari orang yang benar-benar bisa membuatku hijrah.” Egha pun melangkah pergi dengan kasar.
            “Egha! Bukan seperti itu. Aku begini karena memang niat awal hijrahmu sudah salah. Niatmu bukan karena Allah. Tetapi, karena pria.”
     “Ya itu tugasmu! Merubah niatku agar semua hijrahku karena Allah. Bukan malah sombong tidak ingin membantuku hijrah”
     Yurika pun menjadi pucat dan terdiam. Ia benar-benar tidak menyangka Egha berpikiran sangat buruk tentang dirinya. Memang, perkataan kawannya itu tidak sepenuhnya salah. Seharusnya, ia membantu Egha untuk hijrah sepenuhnya bukan malah mengabaikannya. Saat ingin minta maaf, semua sudah terlambat. Egha sudah terlanjur kesal dan meninggalkan Yurika yang sedang diam mematung sendirian.
...
     Tiga hari berlalu. Tidak ada obrolan sama sekali dari kedua sahabat yang biasanya setiap menit sudah ada topik obrolan baru yang dibicarakan. Namun, beberapa hari ini keduanya seperti orang asing yang tidak pernah saling mengenal. Sebenarnya, mereka selalu bertemu di masjid tempat dimana Egha melihat pria itu. Tetapi, wanita berkacamata itu datang hanya untuk bertegur sapa dengan Fajrul. Nama pria itu.
     Yurika pun yang tidak tahan berdiam diri terlalu lama dengan Egha mulai melakukan sesuatu agar hubungan persahabatannya bisa kembali seperti semula. Ia dengan sedikit keberanian mendatangi Fajrul. Orang yang belum ia kenal sama sekali.
     “Fajrul Kahfi?” suara Yurika pelan.
     “Iya? Yurika Anisa?” Fajrul menoleh dan spontan menyebutkan nama wanita yang ada di hadapannya.
     Yurika terkejut, kenapa Pria gagah itu bisa tahu namanya. Namun, pikiran itu cepat-cepat dihilangkan. Ia langsung berbicara ke inti permasalahan. Tanpa basa basi ia menyampaikan seluruh uneg-uneg di kepalanya. Setelah bercerita, Fajrul terlihat sangat terkejut.
     “Baiklah! Biar aku mengenalnya terlebih dahulu.”\
     Yurika pun mengangguk sambil tersenyum senang.
...
     Beberapa bulan pun berlalu. Egha dan Yurika hubungannya sedikit demi sedikit telah membaik. Karena, Egha selama beberapa minggu ke belakang mendapatkan respon yang baik dari Fajrul. Secara alamiah, ia pun mengungkapkan kebahagiaan itu kepada Yurika. Wanita berkacamata itu seperti lupa kalau dirinya sedang bertengkar dengan sahabatnya yang memiliki pipi gembul itu.
     Semuanya pun sudah kembali seperti semula. Di ruang tamu rumah Egha. Wanita berkacamata itu memperlihatkan dirinya kepada Yurika dengan penampilan pakaian yang syar`i. Namun, ia memakai pakaian itu masih dengan bermaksud agar Fajrul tertarik bukan karena Allah. Yurika pun tersenyum sambil terus mendoakan Egha agar niatnya segera lurus.
     Saat sedang menunjukkan tampilannya, tiba-tiba suara pintu rumahnya berbunyi menandakan ada orang yang datang untuk bertamu. Egha pun cepat-cepat berlari untuk membukakan pintu. Tetapi, Ibunya duluan yang sampai dan membukakan pintu.
     “Assalamualaikum.” Pria berpakaian rapi itu tersenyum kepada Ibu dan Egha.
     “Waalaikumussalam.” Jawab Ibu.
     Egha tak percaya melihat orang yang saat ini berada di hadapannya. Fajrul sekeluarga  pun masuk dan langsung menyampaikan hajatnya. Egha dan Yurika sama-sama terkejut mendengarnya. Secepat itukah? Egha pun mengangguk-angguk tanda setuju bahwa dirinya menerima lamaran Fajrul. Semua yang berada di rumah itu pun berbahagia walau hanya berkenalan dalam waktu yang singkat. Mereka pun mulai merencakan hari yang tepat untuk hari yang berbahagia itu.
...
     Kedua pasangan itu duduk manis di pelaminan. Terlihat rona kebahagiaan dari Fajrul dan Egha. Tidak sia-sia ia terpaksa hijrah beberapa bulan ini. Hasilnya memuaskan. Ia sangat bahagia. Namun, saat Yurika naik ke pelaminan dan bersalaman dengannya, tiba-tiba saja kata-kata hijrahlah karena Allah masuk ke dalam lerung hatinya. Padahal, Yurika hanya memberikan pelukan hangat kepadanya, tidak ada satu kata pun selain ucapan selamat dari Yurika. Namun, kata-kata lain yang justru masuk ke dalam hatinya.
     “Tunggu dulu. Bukankah jodoh itu cerminan diri? Harusnya bang Fajrul menikah dengan orang yang baik sepertinya. Bukan orang yang pura-pura hijrah sepertiku.” Egha berbicara dalam hati.
     Tiba-tiba suara bisikan kecil menuju telinga Fajrul.
     “Kita cerai, Mas!”
     Fajrul terbelalak mendengar itu. Egha pun menjelaskan semuanya. Wanita berkacamata itu menjelaskan dengan raut muka yang cukup sedih. Selama ini ia hijrah hanya untuk mendapatkan seorang pria. Namun, respon Fajrul saat mendengar cerita Egha pun cukup mengejutkan. Ia juga menangis saat mendengar cerita istrinya itu. Pria tampan itu pun berbalik cerita kepada Egha.
     “Sebenarnya aku sama sepertimu. Aku adalah seorang lelaki hidung belang yang telah memperkosa banyak wanita. Aku pura-pura hijrah agar mendapatkan sahabatmu. Yurika. Karena, dia begitu cantik. Aku harus pura-pura menjadi orang yang baik kalau ingin berdekatan dengannya. Tetapi, saat Yurika datang menemuiku dan berbicara bahwa kau menyukaiku, maka aku mempertimbangkannya dan cukup tertarik karena kamu sama cantiknya. Jadi, kita ini sama-sama berpura-pura. Oleh sebab itu, Allah menjodohkan kita.”
     Keduanya pun menitikkan air mata. Mereka berdua sama-sama menahan air mata agar tidak terlihat tamu undangan. Namun, tentu saja Yurika peka dengan keadaan itu. Ia pun cepat-cepat naik pelaminan kembali dan bertanya. Mereka berdua pun bercerita kepada Yurika. Wanita berpipi gembul itu mengucap takbir. Rencana Allah memang lebih indah.
     “Lalu bagaimana sekarang? Kalian sudah sah loh menjadi suami istri. Kenapa tidak mencoba hijrah sesungguhnya dengan bersama-sama? Kan lebih asik dan romantis.” Yurika tersenyum.
     Egha dan Fajrul pun saling menatap dan raut kesedihannya perlahan-lahan berkurang. Saran Yurika cukup bagus.
     “Tapi, apakah kamu masih menyukai Yurika?”
     “Tidak. Tentu tidak. Kalau masih, kenapa aku mau menikahimu?”
     Egha mengangguk. Kedua pasangan itu pun berhadapan dan saling berpegangan tangan. Mereka berdua pun membuat janji.
     “Setelah ini, kita sama-sama berhijrah sesungguhnya. Berhijrah karena Allah. Bukan karena sesuatu apapun.” Fajrul memimpin pengucapan janji.
     “Siap. Janji!”
     Keduanya pun berpelukan dan melihat Yurika cemberut.
     “Eh udah jangan lama-lama. Ada anak kecil yang belum nikah disini.” Ledek Egha
     “Okey fine. Aku turun sekarang!” Yurika pun turun dari pelaminan disertai canda.
     Fajrul dan Egha pun tertawa bersama. Ternyata memang benar. Jodoh adalah cerminan diri, yang baik dengan yang baik serta yang pura-pura baik maka akan bersama dengan yang pura-pura baik pula.

Kamis, 09 Agustus 2018

Bermain Game itu Dilarang. Kenapa?


Game adalah hiburan yang paling menyenangkan. Tetapi, jangan biarkan game mengatur hidup kita. Tapi, kitalah yang harus mengatur game itu
Assalamualaikum sahabat-sahabatku. Bagaimana judulnya? Bikin bingung ya? Kenapa bermain game itu dilarang? Memangnya dosa ya kalau bermain game? Iya, bermain game itu dilarang kalau….. Simaklah cerita berikut ini,

“Mabar…..Mabar…!” teriak seorang siswa yang bertubuh tinggi.

“Kuy!” Dijawab serentak oleh hampir seluruh siswa laki-laki yang berada di kelas itu.

Saat itu, sebenarnya sedang waktunya jam pelajaran. Namun, guru yang seharusnya mengajar berhalangan untuk hadir dan hanya memberikan tugas kepada murid-muridnya. Bisa disebut situasi ini oleh kebanyakan siswa adalah jam kosong. Ya, jam dimana gurunya tidak ada. Padahal, tetap saja masih mempunyai kewajiban untuk mengerjakan tugas yang diberikan. 
Hampir seluruh siswa laki-laki yang berada di kelas itu pun memilih untuk bermain game mobile legend yang sedang trend itu daripada mengerjakan tugas. Seorang ketua kelas yang memiliki kewajiban menjaga kelasnya itu pun sedikit geram dengan tingkah teman-temannya. Ia pun berkata,

“Woy, ngerjain tugas dulu lah. Gurunya kan udah ngasih tugas. Kalau udah selesai, baru deh main game.”

“Apaan sih, Zal? Lu kalau gak suka main game diem aja, gak usah sok-sok ngatur.”

Memang, Rizal. Si ketua kelas jarang sekali terlihat memainkan handphonenya di kelas. Oleh sebab itu, Aldi pikir ketuanya itu hanya iri karena tidak suka bermain game.

“Lu ngajakin mainnya di waktu yang kurang tepat, Di.”

Rizal dan Aldi pun terus berdebat. Teman-temannya hanya diam mendengarkan perdebatan itu. Akhrinya, moderator datang untuk menghentikan perdebatan itu. Moderator itu adalah seorang guru yang sedang mengajar di kelas sebelah yang cukup terganggu dengan suara berisik dari kelas Rizal.

“Mana gurunya? Kalau gak ada pasti dikasih tugas dong. Kenapa masih berisik?” Ibu guru tersebut berbicara dengan nada kesal.

“Itu bu..” Rizal sang ketua ingin menjelaskan namun dipotong oleh Aldi.

“Itu bu, anak-anak cowok nih. Masa mau main ML. Padahal kan ada tugas. Udah saya bilangin, selesain tugas dulu baru main, eh ini tetep aja mau main. Mabar katanya.” Aldi menjelaskan dan langsung cengengesan sendiri.

Murid-murid laki yang dipojokkan pun tidak terima. Mereka pun berusaha menjelaskan faktanya. Namun, sang guru sudah tidak ingin mendengar penjelasan siapa-siapa lagi.

            “Sudah.. Sudah… Hp itu dibawa buat memudahkan kalian mengerjakan tugas-tugas, bukan bermain game. Kalau ada yang berisik dan ketahuan lagi sedang bermain game di jam pelajaran, akan Ibu sita hpnya dan diproses di bimbingan konseling.” Guru itu pun meninggalkan ruang kelas.

            Karena takut, semuanya pun mengerjakan tugas dan mengheningkan suasana kelas. Namun, Aldi tetap saja ngeyel dan masih ingin mengajak bermain mobile legend. Ia mengajak bermain dengan suara yang kecil. Namun, sekelas mendengar suara itu karena terlalu hening di tempat itu. Saat mendengar ajakan bermain, siswa laki-laki yang tidak terima dituduh Aldi pun bicara,

            “Berisik, Di. Songong banget kita-kita yang dituduh, kan yang ngajakin awalnya itu, Lu. Daripada main game mendingan ngerjain tugas dulu.”

            Namun, Aldi mendengar perkataan itu justru semakin jumawa.
            “Gua cuma menyelamatkan kita aja. Apa yang salah? Yaudah, bisa main sendiri. Diajakin seneng kok gak mau. Aneh lu semua, ketularan Rizal.”

            Tidak ingin berisik. Semua pun menghentikan perdebatan itu, agar Ibu guru tidak datang lagi dan marah kembali. Aldi pun memilih bermain sendiri di saat teman-teman yang lainnya sibuk mengerjakan tugas. Sejam pun berlalu, jam pelajaran sebentar lagi selesai. Semua murid sudah selesai mengerjakan tugas. Hanya Aldi seorang yang masih sibuk menghancurkan tower. Tiba-tiba seorang guru piket datang untuk menagih tugas. Aldi pun cepat-cepat menyembunyikan ponselnya. Ia terkejut ketika diperintahkan untuk mengumpulkan tugas hari ini juga. Pria tinggi itu pun mencari alasan lagi untuk menguntungkan dirinya sendiri.

            “Bu, biasanya tugas dikumpulin pas ketemu gurunya lagi di minggu depan.”

            “Masa? Cukup, Di. Alasanmu terlalu banyak. Semuanya sudah mengumpulkan. Hanya kamu yang belum. Harus hari ini dikumpulkan. Kamu, Ibu kasih waktu buat ngerjain saat jam istirahat. Cepat kerjakan!”

            Dengan malas ia mengambil bukunya;. Ia mengerjakan tugasnya sendirian dengan pusing. Saat pusing, ia selalu mendengar suara-suara dari game mobile legend yang teman-temannya mainkan. Sepertinya, teman-temannya sengaja mengeraskan volume gamenya untuk membalas perbuatan Aldi yang tadi cukup berisik saat mereka mengerjakan tugas. Tiba-tiba, telinganya pun tidak percaya mendengar ucapan dari seseorang.

            “Mabar… Mabar..” teriak seorang ketua kelas.

            Semua murid kelas yang mendengar itu pun tidak percaya. Rizal bermain game online? Rizal pun memberi tahu apa nicknamenya di dalam game. Semuanya pun penasaran dan mencarinya. Saat telah menemukan profilnya, semua berdecak kagum dan terkejut.

            “Lu bermain sampai ranknya setinggi ini?” tanya salah satu siswa.

            Rizal pun hanya tersenyum malu. Aldi yang mendengar itu pun juga penasaran dan mengabaikan tugasnya sebentar. Ia melihat profil akun Rizal dan tidak menyangka. Ranknya lebih tinggi ketua kelasnya daripada dirinya. Padahal, Rizal tidak pernah terlihat sama sekali bermain game di kelas. Ia benar-benar jarang memainkan ponselnya. Aldi pun berkata,

            “Gua kira lu norak. Tidak suka bermain game dan permainan cowok lainnya. Tapi rernyata…” Aldi pun hanya menggeleng-gelengkan kepala tanda masih tidak percaya.

            “Gua juga manusia, Di. Butuh hiburan. Sebenarnya, Gua gak pernah kelihatan main game di kelas karena waktunya tidak tepat buat bermain game. Sekolah kan waktunya belajar bukan main game. Nah sekarang kan lagi jam istirahat, tugas udah selesai. Jadi, apa salahnya bermain?”

            Aldi pun mengangguk-angguk tanda paham dengan penjelasan Rizal. Bermain game itu dilarang kalau waktunya sedang tidak tepat. Seperti bermain game di saat bekerja, bermain game di saat panggilan Allah sudah terdengar, dan lain sebagainya. Aldi pun langsung tersenyum dan berkata,

            “Yaudahlah, mabar! Jangan hanya liat ranknya doang yang legend. Skillnya cobalah diadu. Heheh."

            “Okey. Siapa takut? Eits, tapi ini bukan waktu yang tepat buat lu bermain.”

            “Kenapa? Ini waktunya istirahat.”

            Rizal pun hanya memberikan isyarat bahwa ada sebuah buku di mejanya yang menunggu untuk diselesaikan. Aldi pun hanya menggaruk-garuk kepalanya. Ia lupa dengan tugasnya. Akhirnya, Rizal dan teman-teman cowoknya yang lain membantu Aldi mengerjakan tugasnya. Setelah selesai, mereka masih ada waktu untuk bermain bersama. Jadi, silahkan bermain game bila memang ada waktu luang dan sedang tidak ada kesibukan yang harus diselesaikan.


            Alhamdulillah, sahabat-sahabatku yang gamers mana suaranya? Hehe. Bagaimana waktu bermain gamenya? Apakah sudah bisa mengatur waktu dengan baik? Serta bermain game sesuai porsinya? Jadi, game itu adalah hiburan yang diperbolehkan. Tetapi, game bisa menjadi dilarang karena eh karena kita tidak bisa mengatur waktu dengan baik. Terkadang, game membuat kita lalai untuk beribadah kepada Allah. Suara adzan terkadang kalah dengan suara dari game kita.

            Oleh sebab itu, bila kita bermain game sesuai porsinya dan tidak berlebihan maka itu bisa menjadi sebuah hiburan untuk kita. Namun, bila berlebihan maka bisa menjadi ancaman untuk kita. Dampaknya sangat banyak bila kita berlebihan bermain game. Seperti mata menjadi rusak. waktu terbuang, dan tidak produktif dalam melakukan kegiatan. Mari, kita atur waktu main game kita. Sekarang ada waktu luang? Kuy main. Sekarang lagi sibuk? Matikan ponsel dan komputer kemudian bersegeralah menyelesaikan pekerjaan itu lalu bila butuh hiburan maka bermain gamelah dengan porsi yang tepat. 

Selasa, 31 Juli 2018

Memberi Tetapi Tidak Berkurang


Bersedekah itu memberi kepada orang lain tanpa mengurangi jumlah suatu hal yang kita berikan

            Abdul adalah seorang anak yang duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Disingkat SD. Ia berasal dari keluarga sederhana. Namun, teman-temannya selalu bingung melihat Abdul selalu menggunakan uang sakunya untuk disedekahkan daripada dibuat jajan. Hidayat, sahabat Abdul pun bertanya kepada temannya itu.
            “Dul, kok kamu selalu sedekah setiap hari, sih?”
            “Aku dikasih uang banyak terus sama Ibu, Yat”
            “Dikasih berapa memangnya?”
            “Beda-beda. Aku bingung, Ibuku setiap hari menambahkan terus uang jajanku. Dari paling kecil lima ratus perak dan paling besar lima ribu. Gak tahu alasannya apa ditambahin terus.”
            Hidayat yang merupakan anak dari keluarga cukup berada pun terkejut dengan uang saku Abdul. Lima ribu baginya sangat pas-pasan sekali. Lalu kenapa Abdul menganggap uangnya banyak? Bahkan memberi juga kepada orang lain. Ia pun bertanya kenapa uangnya ditambah terus.
            “Kurang tahu, Yat. Kata Ibuku balasan untukku. Gak tahu balasan apa maksudnya.”
            Hidayat pun membulatkan bibirnya. Ia mengerti kenapa Abdul selalu bersedekah. Tujuannya adalah untuk mendapatkan uang tambahan dari Ibunya. Namun, perkiraan Hidayat salah. Sebenarnya, Abdul tidak mengerti maksud Ibunya itu tentang balasan. Ibunya mulai terus menerus meningkatkan uang saku Abdul karena dirinya mengetahui bahwa anaknya rajin bersedekah.
Bahkan, Abdul juga rajin menabung dan terkadang tabungannya untuk disedekah kembali kepada orang lain. Menambahkan uang berarti Ibunya telah menaruh kepercayaan pada Abdul untuk digunakan sebaik mungkin. Ibu Abdul cukup terharu melihat anaknya cepat dan mudah sekali mengerti tentang arti uang dan sedekah. Saat kelas 1, Abdul sama seperti anak-anak lain. Meminta uang jajanya selalu dilebihkan setiap harinya. Tetapi, Ibu Abdul mulai mengajarkan anaknya bersedekah dari kelas 1 SD. Ibunya berkata kalau mau uangnya nambah berarti Abdul harus bersedekah kepada orang lain. Pemikiran kecilnya pun protes.
“Ibu kok bohongin Abdul? Aku kelas 1 juga udah ngerti kalau kasih orang berarti jadinya kurang bukan nambah.”
“Itu pelajaran matematika Abdul. Matematika Allah kan beda. Abdul percaya gak sama Ibu? Kalau percaya, coba besok uang Abdul sebagiannya kasih orang lain.”
Abdul pun dengan terpaksa mematuhi nasehat Ibunya. Benar saja, saat pertama kali ia sedekah, keesokan harinya, anak itu mendapatkan uang tambahan dari Ibunya sendiri. Karena, ingin terus menerus dapat tambahan uang, Abdul pun menjadi bersedekah setiap harinya. Namun, itu dua tahun lalu. Saat ini, kelas 3 ia sedang diajarkan ikhlas oleh Ibunya.
Hidayat pun cukup penasaran berapa jumlah yang selalu Abdul sedekahkan. Abdul pun menjelaskan,
“Kamu punya uang berapa? Misalkan kayak aku nih lima ribu. Berarti, dua ribunya buat jajan, dua ribu buat sedekah, dan seribunya aku tabung. Jadinya, aku tetap bisa jajan, sedekah, dan menabung walau dengan uang lima ribu.”
Hidayat pun mengerti bagaimana cara membagi-bagi uang sakunya. Keesokan harinya, teman Abdul itu mulai menjalankan aksinya. Awalnya, Hidayat memang ingin seperti Abdul. Selalu mendapatkan uang tambahan dari Ibunya karena bersedekah. Namun, ia justru dimarahi oleh Ibunya karena dianggap boros dalam menggunakan uang. Abdul pun memberi semangat kepada Hidayat.
“Tenang saja. Kadang-kadang juga uang yang aku sedekahkan tidak bertambah. Karena, Ibu sedang tidak punya uang. Tetapi, Ibu selalu berkata, bahwa suatu saat Allah yang menambahkan dan melipat gandakannya. Kata Ibuku nanti bila saat kita membutuhkannya, barulah dibalas oleh Allah.”
“Tapi kan sekarang aku lagi butuh uang buat jajan. Kok belum ditambahin uangnya sama Allah?” tanya Hidayat lugu.
“Gak tahu deh, yang terpenting kita sedekah aja terus setiap hari. Suatu saat juga Ibumu pasti akan mengetahui kalau kamu rajin bersedekah dan akan menambahkan uang sakumu.”
Beberapa tahun pun berlalu, Abdul dan Hidayat berpisah di bangku sekolah dasar. Mereka berbeda kota saat SMP dan SMA. Tetapi, Allah ingin mempertemukan mereka kembali dalam urusan bisnis.
“Abdul? Apakah kamu pemilik perusahaan A?” tanya Hidayat.
“Hidayat? Apa kamu pemilik perusahaan B?” tanya Abdul.
Keduanya pun mengangguk. Mereka pun saling tersenyum. Akhirnya, mereka mengetahui kapan Allah membalas sedekah itu. Kedua boss ini dahulu selalu bersedekah saat kecil dan Allah membalasnya saat mereka dewasa dengan cara memberikan kesuksesan kepada Abdul dan Hidayat. Sehingga, mereka berdua pun paham bahwa sedekah sebenarnya adalah seperti menabung, baik menabung untuk dunia maupun akhirat.
Alhamdulillah. Sahabat-sahabatku sekalian yang mudah-mudahan selalu dalam lindungan Allah SWT. Apa hikmah yang bisa kita ambil dari cerita fiksi di atas? Ya, bersedekah itu berarti sama halnya dengan menyimpan uang. Kita bisa merasakan hasilnya saat beberapa tahun ke depan, dengan hasil yang luar biasa melimpah.
Kalau tidak merasakan di dunia, pasti Allah akan ganti di akhirat. Oleh sebab itu, baik yang masih kecil, yang muda maupun yang tua, bersedekahlah. Karena, bersedekah itu sebenarnya menguntukan diri kita sendiri. Jangan segan dan ragu untuk memberi kepada orang lain. Karena, hal itu bisa memberikan kebahagiaan kepada orang yang kita berikan. Kita bisa lihat betapa banyak kebaikan yang terkandung di dalam sedekah.
Oleh sebab itu, yakinlah dengan bersedekah maka Allah akan melipat gandakan sedekah kita itu. Lalu, apaa alasa nkita ragu dan tidak mau bersedekah? Padahal, semua harta yang kita miliki adalah kepunyaan Allah SWT. Kenapa kita pelit? Selain itu, harta yang kita miliki terdapat hak orang lain yang harus kita berikan. Marilah bersedekah. Karena, bersedekah tidak akan membuat kita miskin. Tetapi, membuat kita selalu diliputi kebahagiaan.

Selasa, 24 Juli 2018

Orang Tuaku yang Terbaik


Setiap orang tua mempunyai peraturan masing-masing untuk mendidik anaknya. Maka, tugas kita sebagai anak adalah ikutilah peraturan mereka dengan sebaiki-baiknya
“Mau ikut gak, Yan?” Mawar melambai-lambaikan tangan kanannya di hadapan wajah Yani.
Yani pun menggeleng-gelengkan wajahnya untuk membuat dirinya sadar dari lamunannya. Ia tidak menyadari sedari tadi dirinya sedang melamun. Saat diajak mengerjakan tugas kelompok di rumah Mawar, wanita kelas 1 SMA itu pun melamun dan teringat orang tuanya. Ayah dan Ibu Yani benar-benar melarang siapapun temannya untuk main ke rumahnya. Ia tidak mengerti alasannya apa.
Saat itu ia pernah sekali membawa teman sekelasnya bermain ke rumah. Namun, saat temannya sudah pulang ke rumah, Yani dimarahi oleh Ibunya.
“Kenapa gak bilang-bilang dulu mau bawa teman ke rumah? Lihat kan, ngerepotin banget, kita harus nyiapin cemilan deh mau gak mau buat temanmu tadi.”
Yani pun semenjak kejadian itu tidak berani lagi membawa temannya ke rumah. Maka dari itu saat diajak untuk mengerjakan tugas di rumah Mawar, ia berpikir Ibunya Mawar akan bersikap sama seperti Ibunya. Tidak senang bila ada orang yang bermain ke rumah. Yani pun bertanya dengan ragu,
“Memangnya boleh sama orang tuamu kita belajar disana? Gak dimarahin gitu? Kan ngerepotin.”
“Boleh banget banget malah, Yan. Ibuku justru welcome banget sama teman-temanku yang mau bermain ke rumah. Karena, aku anak tunggal. Sehingga, beliau senang banget kalau ada yang datang. Jadinya serasa ramai gitu.”
Yani pun menyetujui ajakan Mawar. Saat sampai depan rumah Mawar, Yani tercengang karena rumah temannya itu sangat besar. Ia pun kembali ragu untuk masuk ke dalam. Namun, Ibu Mawar memaksa masuk dengan menarik tangannya hingga ke ruang tamu yang dingin karena menggunakan pendingin ruangan. Yani bingung dengan sifat Ibunya Mawar. Kenapa hanya kedatangan orang biasa seperti Yani penyambutannya luar biasa. Benar-benar welcome dan ramah Ibu temannya itu. Berbeda sekali dengan Ibunya sendiri.
“Mau makan apa, Yani?”
“Gak usah sediain apa-apa, Bu. Ngerepotin banget. Yani kesini hanya ingin mengerjakan tugas dan setelah selesai akan segera pulang.”
“Nak, biasanya temanmu ini makan apa di sekolah?” Ibu Mawar bertanya.
“Dia biasanya makan bakso, Bu.”
“Bakso? Pas banget. Biasanya jam segini dia lewat. Ibu tunggu dulu ya di luar.”
Ibu Mawar pun benar-benar langsung keluar dan duduk di teras rumah untuk menunggu tukang bakso. Yani merasa benar-benar tidak enak. Ia pun mengajak Mawar untuk belajar di teras rumah saja. Sekaligus menemani Ibu Mawar. Mawar pun menyetujuinya.
“Kenapa belajar di teras? Panas loh disini. Sudah sana masuk saja. Biar Ibu sendiri saja yang menunggu tukang baksonya.”
“Yani memang sukanya angin alami saja, Bu. Aku tidak terlalu suka AC.” Yani pun bicara lalu tersenyum.
Ibu Mawar pun menyelingi kerja kelompok dengan berbincang-bincang. Benar-benar sangat ramah dan baik. Yani pun mulai membayangkan bagaimana bila dia punya seorang Ibu seperti Ibu temannya itu. Siswi itu mulai iri dan membanding-bandingkan orang tuanya sendiri dengan orang tua temannya.
Saat di rumah, Yani ingin melihat apakah Ibunya sudah berubah atau belum. Ia pun berpura-pura bicara pada Ibunya kalau temannya mau main ke rumah. Ternyata, Ibunya masih tidak suka bila ada orang yang berkunjung. Mendengar itu, Ibu Yani terkejut dan langsung berbicara dengan cerewetnya.
“Apa? Ibu kan udah sering bilang ke kamu. Kalau mau main atau belajar di tempat lain aja. Gak usah ke rum…”
Belum selesai Ibunya bicara. Yani sudah memotongnya.
“Ibu? Kenapa sih gak seperti Ibu Mawar? Ibu kan harusnya tahu dalam islam kita diperintahkan untuk memuliakan tamu. Tetapi, Ibu malah mengusir tamu. Kenapa Bu, kenapa?
Saat anaknya memotong perkataannya, hati Ibu Yani seperti teriris. Betapa tidak sopannya. Melihat ketidak sopanan Yani, Ibu pun menangis. Akhirnya, Ibu Yani menjelaskan semuanya kepada anaknya.
“Ibu sedih, Yan. Kenapa kamu berbicara seperti itu. Ibu tidak ingin kamu malu. Apakah kamu tidak sadar bagaimana rumah kita? Kecil, sempit, dan banyak barang-barang bekas serta alat-alat teknisi dimana-mana.”
Yani pun tercengang setelah mendengar penjelasan dari Ibunya. Ternyata, Ibunya sangat baik kepada dirinya.
“Maa….” Saat Yani ingin mengucap maaf. Ibu kembali bicara dan menjelaskan lebih detail.
“Sebenarnya, Ibu sangat bahagia bila ada tamu yang datang ke rumah kita. Karena, itu berarti rumah kita akan dipenuhi keberkahan. Namun, Ibu tidak tega melihat kamu yang harus menanggung malu di hadapan teman-temanmu.” Air mata Ibu Yani pun semakin deras menetes.
Setelah mendengar penjelasan lengkap dari Ibunya, sang anak pun otomatis memeluk dan ikut menangis di pelukan Ibunya. Ia benar-benar tidak tahu bahwa ternyata orang tuanya sangat baik. Tidak seperti dugaan sebelumnya.
“Bu, doakan Yani. Yani akan punya rumah yang besar untuk Ibu dan Ayah. Setelah itu, semua orang boleh datang ke rumah kita, Bu. Yani janji akan membahagiakan Ibu. Maafkan Yani, Bu!”
Yani pun semaakin mempererat pelukannya kepada Ibunya. Ia menyesali semua perkataannya yang penuh ketidak sopanan itu.
Sahabat-sahabat pembacaku sekalian yang mudah-mudahan selalu dalam lindungan Allah SWT. Diri saya pribadi saat menulis ini masih berstatus sebagai seorang anak. Sehingga, tulisan ini pun bukan untuk menghakimi siapapun. Tetapi tulisan ini untuk menjadi pengingat agar pembaca dan diri saya pribadi selalu menghormati kedua orang tua yang telah merawat dan menjaga kita.
Kawan, orang tua kita hanyalah seorang manusia biasa. Mereka tidak bisa selalu menyenangkan hati kita. Tetapi, mereka selalu berusaha memberi yang terbaik untuk anaknya. Bahkan, jasanya tidak akan bisa terbalaskan dengan cara apapun. Setelah mengetahui itu, kenapa kita masih saja tidak menghormatinya? Apa salah orang tua kita? Ya, memang setiap orang tua mempunyai peraturan-peraturan yang berbeda-beda untuk mendidik anaknya yang terkadang kita anggap peraturan itu menyebalkan.
Namun, perlu kita yakini bahwa peraturan yang mereka buat adalah demi kebaikan kita. Mereka sangat khawatir terhadap anaknya. Kedua orang tua membuat peraturan bukan untuk mengekang kebebasan kita. Tetapi, untuk melindungi anak-anaknya agar tidak terjerumus ke jalan yang salah. Seharusnya kita berterima kasih kepada mereka. Bukan justru kesal karena terlalu banyaknya peraturan.
Setelah mengetahui pengorbanan mereka, jangan pernah kita membuatnya meneteskan air mata karena kelakuan buruk kita. Ayo, sekarang coba kita tatap Ayah dan Ibu kita yang sudah mulai semakin senja umurnya. Mumpung masih ada, hargailah mereka, kita hormati mereka, bersikap sopan santun, dan turuti semua keinginannya selama itu baik. Hal itu adalah hal yang cukup mudah kita lakukan dibandingkan hal yang mereka lakukan untuk kita.
Mereka harus berjuang untuk melahirkan kita, merawat kita, menjaga, dan membesarkan kita seperti sekarang ini. Oleh sebab itu. Mari kawan, kita berusaha untuk membahagiakan mereka. Cobalah peluk kedua orang tua kita. Agar kita bisa merasakan betapa hangatnya kasih sayang mereka kepada kita.
Setiap orang tua adalah yang terbaik untuk anaknya. Kebahagiaan mereka cukup sederhana. Kebahagiaan mereka adalah saat melihat kita anaknya sukses serta bahagia di dunia maupun di akhirat. Maafkan kami, Ayah, Ibu. Kami akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kalian.

Senin, 26 Maret 2018

Ingin Menjadi Orang Lain


Terkadang, orang tua salah mengucap dan bertindak kepada anaknya. Salah satunya adalah membanding-bandingkan anak sendiri dengan anak tetangga yang lebih hebat. Tidak salah memang jika orang tua ingin yang terbaik dari anaknya. Tetapi, hal itulah yang membuat seorang anak menjadi tidak percaya diri dan tidak yakin bahwa dirinya suatu saat nanti akan berhasil
            Siang itu, Seorang wanita paruh baya memarahi anaknya yang duduk di bangku kelas 2 SMP karena mendapatkan nilai raport yang pas-pasan. Hanya tepat pada nilai KKM yaitu 75. Remaja itu, hanya bisa menunduk ketika dinasehati oleh Ibunya. Ia sadar bahwa dirinya salah. Sehingga, ia merasa pantas mendapatkan itu semua. Remaja yang bernama Dodi itu hanya mengangguk-angguk dengan perasaan menyesal.
            Kini, di dalam hatinya sudah ada sedikit terselip motivasi untuk mendapatkan nilai yang lebih baik. Namun, tiba-tiba api semangatnya kembali padam lagi ketika Ibunya berkata,
            “Lihat Amran? Kamu kan sering bermain sama dia. Kerja kelompok sama dia. Kenapa kamu tidak bisa sebagus dia nilainya? Menjadi seorang juara kelas? Kamu sih kebanyakan main bola.”
            “Maaf, Bu. Dodi janji akan lebih baik lagi.”
            “Iya. Tinggalkan dahulu bolamu itu.” Ibu pergi meninggalkan Dodi di ruang tamu.
            Dodi pun duduk sendirian di ruang tamu. Ia merebahkan dirinya di sofa empuknya itu. Memikirkan bagaimana caranya ia bisa membanggakan serta membahagiakan kedua orang tuanya. Ia mulai teringat dengan perkataan Ibunya. Amran.
            “Aku harus menjadi Amran. Iya aku harus seperti dia. Kutu buku, dan tidak suka berolahraga.” Dodi menangkap perkataan Ibu sesuai pikirannya.
            Dodi pun di sekolah terus memperhatikan bagaimana Amran bersikap. Ia mencatat semuanya dalam pikirannya. Selama satu semester ia mengikuti semua yang dilakukan Amran. Namun, hasilnya ternyata tidak jauh berbeda dengan semester kemarin. Nilainya masih tetap sama. Ia pun harus rela kembali dimarahi oleh Ibunya.
            “Kamu tidak belajar dengan Amran ya? Kalau punya teman pintar seperti itu jangan disia-siakan.”
            “Aku sudah belajar dengannya, Bu. Semua hal tentangnya aku ikuti.”
            “Belum semua. Kalau semuanya pasti kamu bisa mendapatkan nilai bagus seperti dirinya.” Ibu pun kembali meninggalkan Dodi sendirian di ruang tamu.
            Dodi pun mulai kebingungan. Ia padahal sudah mengikuti semua hal yang dilakukan Amran. Namun, semuanya masih tetap sama. Kepercayaan dirinya lama kelamaan runtuh. Sedikit demi sedikit Dodi berpikir bahwa dirinya sangatlah buruk dibandingkan Amran. Ia bepikir bahwa ia tidak akan bisa sebaik temannya itu.
            Pria berperawakan kurus itu pun berniat mengambil air di dapur untuk menenangkan dirinya sendiri dan bisa berpikir jernih. Namun, saat menuju dapur, ia melihat adiknya yang masih berusia 10 tahun mengambar di dinding. Dodi yang saat ini perasaannya tidak enak karena habis dimarahi Ibunya, ia pun memarahi pula adiknya.
            “Kamu ini ngapain, De? Kakak bilangin Ibu  kalau kamu coret-coret dinding. Lagian masa laki-laki suka gambar. Main bola sana! Laki-laki atau perempuan sih kamu?”
            Dodi pun mengambil pensil warna adiknya dan pergi. Sang adik sangat terpukul dan sakit hati. Perkataan kakaknya membuat semangat menggambarnya menyurut. Ia merasa bahwa gambar yang dihasilkannya sangatlah buruk. Ia pun keesokan harinya mencari teman yang bisa diajak bermain bola. Namun, ternyata baru sekali ia bermain bola, adik Dodi itu terjatuh. Lututnya terluka. Ia pun kehilangan semangatnya untuk melakukan apapun. Anak kecil itu tidak mahir bermain bola. Tetapi, kata Kakaknya seorang laki-laki haruslah bermain bola bukan menggambar.
Jangan pernah menganggap anak kita sendiri itu buruk melaukan setiap kegiatan. Setiap anak memang di satu sisi terasa buruk. Namun, di sisi lain anak kita adalah seorang juara. Kita sebagai orang tua seharusnya bukan melihat sisi buruknya. Tetapi, kembangkanlah sisi dimana sang anak kita bisa melakukan sesuatu itu dengan baik.
            Jangan pernah mematahkan semangat seorang anak. Anak adalah seseorang yang masih harus diarahkan dan didorong. Kalau kita sebagai orang tua hanya bisa mematahkan. Maka, bersiap-siaplah sang anak tersebut tidak akan pernah percaya dirinya akan menjadi orang yang berhasil dan sukses.
            Dukunglah potensi anak kita. Apapun itu asalkan baik, dan jangan pernah memaksanya untuk menjadi orang lain. Karena, setiap anak punya potensinya masing-masing dan setiap anak istimewa.
            Assalamualaikum Wr.Wb
            Alhamdulillah ini adalah tulisan pertama saya di blog ini. Mohon maaf jika tulisan ini banyak kekurangannya. Tulisan ini dibuat untuk menginspirasi para pembaca sekalian bukan bermaksud untuk menyalahkan pihak manapun. Motivasi dari orang lain dibutuhkan untuk membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
            Kritik dan saran sangat dibutuhkan untuk membuat blog ini lebih baik lagi. Semoga termotivasi dan teruslah berbuat baik.

Aku Ingin Hijrah(Cerpen)

“Kita cerai, Mas!” bisik seorang wanita. Mata pria yang mengenakan jas hitam terbelalak setelah mendengar bisikan halus itu. Ia langsu...