Jumat, 30 Agustus 2019

Perlukah Dukungan Orang Lain?




Dalam hidup ini, interaksi tidak bisa dielakkan oleh manusia. Semua orang harus berinteraksi satu sama lain. Karena, itu adalah kebutuhan yang harus dipenuhi. Apabila tidak terpenuhi. Maka, orang itu akan gila. Sebab, organ-organ tubuhnya ada yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Mulut yang harusnya selalu berbicara, pikiran yang harusnya selalu berpikir dan perasaan yang harusnya selalu merasakan ada apa di sekitarnya menjadi tidak terpakai. Apabila tidak ada interaksi. Mulut, pemikiran, dan perasaan tidak akan pernah bekerja. Karena, tidak tahu apa yang dibicarakan, dipikirkan, dan dirasakan.

Namun, ada pula interaksi yang terlalu berlebihan. Sehingga, fungsi dari ketiga hal itu menjadi tidak efisien. Terlalu bawel, terlalu memikirkan perkataan orang lain, dan terlalu terbawa perasaan alias baper. Sampai-sampai sering dibaperin oleh orang yang sama berulang-ulang kali. Lalu apa hubungannya itu semua dengan dukungan orang lain? Dukungan merupakan bisa menjadi salah satu bagian dari sebuah interaksi. Sebab, ada hubungan antara orang satu dengan lainnya. Pertanyaannya adalah perlukah kita mendukung orang lain alias menyemangatinya saat orang itu sedang terpuruk, dan mendoakan orang lain sukses saat ingin melakukan sesuatu? Atau perlukah kita menerima semua dukungan itu dari orang lain? Intinya adalah dalam interaksi haruskah ada dukungan dari orang lain untuk kita atau sebaliknya?

“Nggak perlu, lah! Itu namanya ikut campur masalah orang lain. Ngapain sih lagian kita semangatin untuk bangkit? Kita kan nggak ngerasain. Nggak tahu rasanya terkena masalah itu. Kenapa juga harus berlagak menyemangati?”

“Perlu, dong! Semua orang itu butuh dukungan dari orang lain. Saat terpuruk, ia butuh dukungan yang mengatakan bahwa ia bisa bangkit. Kalau kita diamkan mereka, itu hanya membuat dirinya semakin terpuruk.”

“Apa, sih! Gua hanya butuh sendiri saat lagi ada masalah. Justru kalau disemangatin orang malah risih. Berasa mereka berlagak tahu banget apa yang gua rasain. Inget! Seseorang hanya ingin tahu masalah orang lain. Bukan untuk peduli.”

“Terserah, Kamu. Kalau aku perlu banget. Karena, saat masih ada yang mendukung kita entah saat ada masalah maupun saat ingin menggapai mimpi. Itu tuh rasanya mood booster banget. Tandanya, masih ada orang yang sedih melihatku sedih dan senang melihatku senang. Itu rasanya seneng banget. Karena, aku merasa masih berguna untuk orang lain.”

Kalau kamu, bagaimana? Perlukah dukungan orang lain? Masih bimbang? Untuk memberikan kalian petunjuk. Mari dengarkan Pak Sentosa alias seorang motivator ini akan memberi tahu dalam ceritanya.

Suara gemuruh tepuk tangan mengiringi Pak Sentosa yang turun dari panggung. Sukses lagi. Itulah yang ia dapatkan saat menyampaikan motivasi terhadap khalayak ramai. Semua penonton terlihat seperti merasa lebih energik setelah mendengar cuap-cuap dari Pak Sentosa.
            
Alhamdulillah. Sukses lagi, Pak?” tanya Istri Pak Sentosa saat di belakang panggung.
“Alhamdulillah, Bu. Semua berkat, kamu.” Pak Sentosa tersenyum. Namun, kecut.
Istri Pak Sentosa sangat senang. Walaupun satu masalah sedang menggelayuti hati dan pikirannya. Lelaki berbadan atletis itu tetap berhasil memotivasi orang lain.

“Sabar ya, Pak. Endo pasti segera pulang.” Wanita itu mengusap-usap punggung suaminya.
            
“Aku mau totalitas untuk mencari Endo. Termasuk, meninggalkan kegiatanku ini.”
“Jangan, Pak! Di luar sana banyak orang yang membutuhkan dukungan. Membutuhkan transfer energi positif. Memerlukan orang yang bisa membuat mereka semangat. Ayo, semangat! Masa motivator yang biasanya memotivasi orang lain, justru kehilangan semangatnya?”

Pak Sentosa pun hanya mengangguk

Bulan terus berganti. Pria itu sebelum naik ke panggung untuk menjadi pembicara. Dirinya selalu dihantui dengan perasaan cemas terhadap Endo. Namun, lagi-lagi sang Istrilah yang selalu menenangkannya dan dapat membuat dirinya lancar berbicara di atas panggung. Tetapi, pada hari ini. Kabar mengejutkan datang. Pendukung terbaik Pak Sentosa dalam hidup akhirnya telah hilang selamanya.

Motivator itu pun seperti kehilangan sebagian hidupnya. Tidak ada lagi yang dipikirkannya. Ia pun terkejut dengan kematian Istrinya. Wanitanya pergi. Anaknya kembali pulang. Entah dari mana Endo mendapatkan informasi bahwa Ibunya telah tiada. Tetapi, batang hidungnya terlihat saat menguburkan jenazah sang Ibu.
“Puas?” tanya Ayah kepada Endo.

“Apa maksudmu? Siapa yang senang melihat Ibunya meninggal?”

“Lalu? Untuk apa kemarin-kemarin kamu pergi? Sudah terlambat untuk kembali!”

Pak Sentosa pun bercekcok dengan Endo. Hal itu membuat Endo pergi lagi dari rumah. Namun, saat semuanya sudah cukup tenang. Pria berambut panjang itu kembali lagi ke rumah.

“Maafkan aku, Ayah.” Endo meminta maaf dengan tulus.

Pria yang sudah cukup berumur itu telah mampu mengendalikan emosinya. Ia tersenyum kepada anaknya. Kepulangan putranya cukup membuat hatinya sedikit terhibur di kala kepergian Istrinya. Namun, itu semua tidak bisa membuat Pak Sentosa melanjutkan karirnya lagi.

“Ayah mau berhenti menjadi motivator. Tidak ada lagi yang bisa menyemangati ayah untuk tetap memberi motivasi kepada orang lain.”

Mendengar itu Endo terkejut. Ia cepat-cepat mengambil ponselnya dan menunjukkannya kepada orang tua di depannya.

“Jangan, Ayah! Lihat! Ini percakapanku dengan Ibu. Pesan terakhirnya, tetaplah memberi penyemangat kepada ayah untuk selalu menjadi motivator. Karena, masih banyak yang membutuhkan Ayah.”

Pak Sentosa mengambil ponsel anaknya dan membaca satu persatu chatting antara Ibu dan anak itu.

“Jadi, dari saat kamu menghilang. Ibu masih selalu menghubungi kamu?”

“Iya, Yah. Aku bilang pada Ibu tidak mau pulang. Sekaligus, jangan memberi tahu keberadaanku. Dan Ibu memang amanah. Ayah benar-benar tidak tahu sama sekali, bukan?”

Ayah tidak menggubris apa-apa. Setelah itu, semua hening seketika. Tanpa sadar, air mata Pak Sentosa menetes mengingat betapa hebat Istrinya. Ia pun menarik napas dan memutuskan sesuatu.

“Teman-teman sekalian. Saya tetap berdiri disini, karena mempunyai supporting terbaik. Pendukung yang selalu mendorong saya, agar jangan pernah berhenti memberikan motivasi untuk orang lain. Memang, dialah yang terbaik. Sudah terkubur dalam tanah pun pancaran semangatnya masih bisa saya rasakan. Terima kasih. Saya Sentosa. Semoga hidup kita semua selalu damai sentosa. Selamat malam."

Tepukan bergemuruh saat Pak Sentosa turun dari panggung. Biasanya, Istri yang selalu ia lihat di belakang panggung. Kali ini, anaknya yang siap mendampinginya. Ia memeluk anaknya dengan senang.

“Ayah berhasil.”

“Tenang, asal kamu tidak pergi lagi. Ayah akan tetap bersemangat dalam memotivasi orang lain. Karena, kamulah yang saat ini menjadi supporting terbaik ayah.”

...


Bagaimana? Sudah bisakah menjawab pertanyaan di atas? Kalau author jawabannya adalah PERLU. Dari cerita di atas dapat diketahui bahwa seorang motivator. Orang yang selalu memberi semangat kepada orang lain, memberi kata-kata bijak. Dirinya masih membutuhkan dukungan. Tanpa dukungan dari orang-orang yang dicintainya, Pak Sentosa tidak bisa memberikan motivasi.

Tandanya apa? Tandanya adalah setiap orang membutuhkan orang lain dalam kehidupan. Membutuhkan seseorang yang mengatakan,

“Kamu hebat!”
“Kamu bisa melakukannya!”

Karena, dengan adanya orang yang mengatakan itu. Ia yakin bahwa banyak yang menunggunya untuk sukses, banyak yang membutuhkan dirinya dan lain sebagainya. Untuk orang yang biasanya menyendiri saat menyelesaikan masalah? Mungkin, dari dahulu ia sudah terbiasa dengan kesendirian. Namun, percayalah. Lama kelamaan kesendirian itu akan mulai terasa menjenuhkan, dan saat kamu ingin mencari makhluk lain untuk menjadi supporting kamu.

Kamu pasti akan sulit menemukannya. Karena, mereka telah menganggap kamu lebih suka sendiri dalam menyelesaikan masalah. Jadi, menyendiri bukanlah sebuah solusi yang baik untuk ke depannya. Alasan kita diciptakan berpasang-pasangan adalah salah satunya untuk ini. Untuk saling menjaga, saling mendukung, saling menyayangi, dan saling mencintai. Bagi yang masih senang meratapi masalahnya sendirian. Cobalah untuk mencari seseorang yang bisa kau bagikan masalah. Kalau memang tidak percaya manusia. Maka, tidak ada tempat pembagi masalah terbaik selain Allah.
           
Jadi, menurut kamu. Perlu nggak sih support alias dukungan orang lain? Kalau yang jawab tidak perlu. Tidak apa-apa. Karena, memang di dunia ini sulit untuk mencari orang yang benar-benar tulus mendukung kita. Tanpa bermaksud meminta imbalan. Terkadang, orang mendukung hanya untuk terlihat peduli. Padahal, rencana-rencana jahatnya telah ia siapkan dibalik kepedulian itu.

Namun, kita juga tidak bisa terlalu curiga terhadap seluruh makhluk di bumi ini. Cukuplah hati-hati dalam mencari dukungan yang terbaik. Karena, akan kelihatan seseorang yang pura-pura peduli dan yang benar-benar peduli.

Sekian, tetap semangat semuanya. Cahaya Muslim P S disini akan selalu berusaha menjadi supporting terbaik kalian. Semangat!

Salam,
Cahaya Muslim P S

untuk motivasi lainnya: Silahkan cek ig: @cahayamps

Minggu, 11 Agustus 2019

IPK Tinggi atau Skill Tinggi


Ketika ditanya. Mending, nilai diri alias skill atau nilai angka alias IPK? Ada yang jawab nilai IPK(Indeks Prestasi Kumulatif) itu paling penting. Karena, saat melamar kerja HRD pasti melihat transkip nilai. Kemudian, akan memanggil interview orang-orang ber-IPK tinggi. Coba, kalau saat dilihat IPK kita angka depannya sudah 1 atau 2. Mungkin saja, HRD itu tidak akan melirik bagian profil kita yang lain. Bahkan, ada perusahaan yang meletakkan syarat IPK min 3,5 agar bisa bekerja dengan mereka.
            Ada juga yang ngomong. Lebih penting nilai diri alias skill mumpuni. Inget, kata Bapak Anies IPK cuma bisa mengantarkan kita pada meja interview. Coba, kalau kita diundang di interview. Tetapi, skill bicara kita kurang alias kita ngomongnya nggak jelas karena gugup. Apa HRD menjadi yakin dengan kemampuan kita? Selain itu, potensi untuk dipecat lebih besar. Kalau ternyata, tidak mempunyai skill apa-apa. Seperti, IT, public speaking, negosiasi, dan skill lainnya yang dibutuhkan perusahaan. Camkan ini! Perusahaan butuh skill kita untuk berkontribusi memajukannya. Nilai angka alias IPK kita tidak berkontribusi apa-apa untuk perusahaan.
STOP!
            Daripada ribut, lebih penting membaca kisah dua orang berbeda nasib ini. Berbeda. Namun, hubungan mereka sangat erat sekali dengan sesuatu yang sedang diperdebatkan ini. Nama mereka Raka dan Ragil. Kisah si Raka yang punya IPK tinggi, dan juga kisah si Ragil yang punya skill luar biasa. Cek i dot.
            Keringat Raka mulai bermunculan dan meluncur di setiap anggota tubuhnya. Wajah dan tangan terlihat sekali basah oleh cairan ini. Bukan habis berlari atau terkena panasnya sinar matahari penyebabnya. Melainkan, sebuah podium berhasil membuat Raka kepanasan. Ia tidak pernah menyangka sebelumnya akan disuruh maju ke depan dan berpidato sebagai lulusan terbaik.
            Memang, Raka adalah lulusan terbaik dengan IPK sempurna 4,00. Seperti tidak mungkin. Namun, itulah kenyataannya. Pria berbadan tegap itu terus belajar dan menghafal sebelum ujian dilaksanakan. Sehingga, tidak heran nilainya sebesar itu alias paling tinggi. Tetapi, dirinya acuh tentang presentasi di depan kelas serta berbicara depan umum. Mahasiswa itu memilih mengerjakan power point saja daripada harus cuap-cuap di depan.
            Itulah hasilnya. Ketika mendapatkan kesempatan berbicara di depan umum. Mulutnya tidak mampu berucap sesuatu. Padahal, otaknya sangat pintar dan banyak kalimat-kalimat cerdas di kepalanya. Karena gugup, mulut tidak bisa mengeluarkan itu semua.
            “Ter... i... ma... kasih, semua. Sem... o... ga kita semua bisa sukses dimanapun berada. Wassalamualaikum.” Raka mengakhiri pidatonya dengan gagap. Dirinya turun dari podium dengan menghembuskan napas lega.
            Walaupun tidak berbicara dengan lantang, Raka masih mendapatkan tepukan yang luar biasa. Tetapi, tetap saja para pendengar menyadari bahwa ada yang salah dengan pria itu. Semua tahu, kegugupannya membuat Raka kehilangan wibawanya sebagai mahasiswa lulusan terbaik. Namun, para wisudawan dan orang tua yang hadir disana tentu tahu bahwa memang Rakalah yang memiliki IPK sempurna. Tidak bisa disangkal hanya dengan ketidakcakapannya Raka dalam berpidato.
            “Selamat bekerja! Semoga bisa bekerja dengan baik.” Manajer menyalami Raka.
            Raka tersenyum lebar. IPK tinggi sangatlah membantunya memasuki dunia pekerjaan. Apalagi dengan predikat cumlaudenya. Buktinya adalah ini. Ia langsung mendapatkan undangan untuk bekerja di salah satu perusahaan tanpa melewati tahap interview. Betapa beruntungnya Raka. Ia pun mulai bekerja. Lambat laun, Sang manajer memarahi Raka. Karena, tidak bisa mengoperasikan komputer. Raka tidak mengerti sistem-sistem rumit dalam komputer. Dirinya hanya tahu dasar-dasar seperti word, excel, dan semacamnya.
            “IPK tinggi. Tetapi, tidak mengerti IT?” tanya manajer keras.
            “Saya lulusan ekonomi, Pak. Bukan lulusan IT.”
            “Iya, saya mengerti. Sekarang, memang kamu berada di posisi apa? Berhubungan dengan ekonomi, bukan? Namun, kenapa tidak bisa memakai komputer untuk membuat laporanmu? Sekarang, semua pekerjaan apapun itu pasti harus berhubugan dengan teknologi. Kalau kamu gagap teknologi. Bagaimana bisa bekerja? Saya tidak mau tahu, kamu harus belajar!”
            Raka pun hanya termenung di depan komputer yang tidak ia pahami sama sekali penggunaanya.
...
            Ragil bertepuk tangan setelah seorang mahasiswa lulusan terbaik di kampusnya turun dari podium. Pria bertubuh kurus itu tidak mengenal sama sekali orang yang berasal dari lulusan ekonomi tersebut. Namun, Ragil tahu. Bahwa, Raka adalah mahasiswa yang hebat. Pasti mudah mendapatkan pekerjaan. Begitulah pikirnya. Sementara dirinya, akan sulit mendapatkan undangan interview. Sebab, IPKnya yang hanya berada di angka 2.
            Benar saja. Baik emailnya, ponselnya. Tak ada satu pun undangan interview untuk dirinya. Padahal, lamaran sudah ia sebar kemana-mana. Akhirnya, setelah sekian lama. Sebuah perusahaan baru yang membutuhkan banyak karyawan memanggil Ragil yang memang berlatar belakang jurusan IT. Cocok dengan perusahaan mereka yang sehari-harinya berhubungan dengan teknologi. Saat diwawancara, betapa terkejutnya HRD dengan kemampuan berbicara Ragil.
            Ketika ditanya, Ragil menjawab dengan lugas dan tanpa ragu. Lidahnya sama sekali tidak tergelincir. Mulutnya sangat lancar mengeluarkan banyak kata. HRD pun sampai tidak percaya bahwa pria kurus yang duduk berada di hadapannya itu hanya mendapatkan IPK di angka 2. Seharusnya, minimal bisa mencapai angka 3.
            “Kamu sangat cocok menempati posisi-posisi yang berhubungan dengan komunikasi. Seperti, customer service, resepsionis, administrasi, negosiator, public relations, dan sebagainya. Komunikasimu sangatlah bagus. Sampai-sampai saya tidak percaya atas ketidaksesuaian IPK dengan kemampuan yang ada di dalam diri kamu. Tetapi, tenang saja. Yang dibutuhkan disini adalah kecapakan para pekerjanya. Bukan, sebuah nilai.”
            Ragil tersenyum saat HRD bicara seperti itu.
            “Terima kasih! Terima kasih!” Ragil sangat bersemangat.
            “Namun, hasil IPKmu perlu dipertanyakan. Apakah kamu sering bolos atau terlambat masuk kelas? Karena, hal-hal seperti itu pun cukup mempengaruhi nilai. Kalau memang seperti itu adanya. Hmm... tandanya, kamu bukan orang yang disiplin. Tetapi, itu hanya prasangkaan saya. Jangan diambil hati. Saya tetap menerima kamu bekerja disini. Jadi, selamat bekerja!”
            Perkataan pertama HRD itu membuat Ragil tersenyum penuh bahagia. Namun, ketika perkataan kedua HRD meluncur. Senyum Ragil menjadi kecut dan dipaksakan. Iya. Semua yang dituduhkan HRD kepadanya sangatlah benar. Namun, itu dahulu. Saat ia belum menyadari betapa pentingnya IPK dan kuliah di matanya. Sehingga, dirinya sering membolos. Tetapi, sekarang ini telah berbeda. Dirinya sudah mulai berubah menjadi lebih disiplin dari sebelumnya. Oleh sebab itu, Ragil tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan bekerja yang telah didapatkannya ini.
...
            Dari cerita Raka dan Ragil di atas. Jadi, unggulan mana? IPK tinggi atau skill tinggi?
            “Tetep IPK, dong. Lihat Raka. Diundang langsung untuk bekerja oleh perusahaan. Sementara, Ragil? Hanya mendapatkan interview di perusahaan yang baru mau berdri. Serta, benar juga apa yang dikatakan HRD itu. IPK kecil tandanya nunjukkin kalau si mahasiswa, saat kuliah nggak disiplin alias malas-malasan.”
            “Skill paling unggul. Lihat Ragil. Kata HRD itu komunikasi ia bagus. Banyak posisi yang bisa ditempatinya. Sementara, Raka? Terancam dipecat karena tidak memiliki skill apa-apa. Ragil akan terus berkembang posisinya seiring berjalan waktu. Bahkan, bisa lebih sukses dari Raka.”
STOP FIGHTING, PLEASE!
            Daripada berdebat mana yang paling unggul. Mending baca ini dulu. Sahabat-sahabat semua, ini semua bukan tentang mana yang paling unggul. Tetapi, hal mana yang paling penting. Dan jawabannya adalah..... Keduanya penting. Kita nggak bisa ngejar IPK. Tetapi, abai sama skill-skill di dunia kerja. Seperti operasikan word, negosiasi, public speaking, komputer, dan sebagainya. Karena, kemampuan seperti itulah yang akan dibutuhkan di masa depan. Selain itu, kita juga nggak bisa cuma mikirin skill. Tetapi, abai dengan kuliah alias IPK. Sebab, nilai itu adalah ibarat ukuran diri seseorang. Orang pasti akan menganggap malas mahasiswa yang ber-IPK rendah. Begitu juga pandangan seorang HRD.
            Jadi, kesimpulannya? Nggak usah diributkan lagi. Untuk yang saat ini masih berstatus mahasiswa. Cobalah membuat IPK akhir minimal di angka 3,5 atau di bawahnya sedikit. Tetapi, jangan lupakan organisai, upgrade diri. Belajar banyak tentang pengoperasian komputer, berkomunikasi dengan baik terhadap orang-orang. Karena, kunci dari kesuksesan adalah bagaimana kita bisa lancar berkomunikasi dengan orang lain.
            Kemudian, yang sudah terlanjur basah alias udah lulus kuliah. Tetapi, punya IPK rendah. Jangan pernah patah semangat! Kalian masih bisa sukses dimanapun berada. Caranya? Caranya adalah tunjukkan skill yang kalian punya. Buktikan bahwa memang kemampuan yang kalian miliki dibutuhkan di dunia pekerjaan. Intinya adalah, jangan pernah menyerah kalau belum mendapatkan apapun saat ini. Tandanya, masih disuruh lagi untuk terus belajar skill-skill baru yang pastinya akan berguna suatu saat nanti.
            Tetap semangat, sahabat-sahabat!

Sabtu, 10 November 2018

Aku Ingin Hijrah(Cerpen)


“Kita cerai, Mas!” bisik seorang wanita.
Mata pria yang mengenakan jas hitam terbelalak setelah mendengar bisikan halus itu. Ia langsung menatap wanita yang saat ini telah sah menjadi istrinya. Baru beberapa menit ia mengucap ijab qabul. Tiba-tiba saja saat sedang duduk di pelaminan, Istrinya langsung membisikkan kata-kata yang aneh.
            Setelah itu, Pasangan suami istri itu menyalami para tamu undangan dengan wajah yang datar. Seperti tidak ada kebahagian dari mereka berdua. Para tamu undangan pun setelah turun dari pelaminan langsung membicarakan sikap aneh kedua pengantin baru itu.
...
            “Aku ingin hijrah, Yur!”
            Egha berbicara sambil matanya terus menatap ujung jalan. Yurika yang berada di sampingnya kebingungan dengan apa yang ditatap Egha. Ia pun memegang jidat wanita berkacamata itu, memastikan bahwa temannya baik-baik saja. Merasa penglihatannya terganggu, Egha pun langsung menepis tangan Yurika.
            “Apaan sih, Yur?”
            “Kamu yang kenapa? Ngomong, tapi tatapannya kosong gitu.”
            Egha pun bercerita panjang lebar. Ia tadi melihat seorang pria tampan, gagah berjalan melewati dirinya dengan pakaian yang terlihat agamis. Karena terpesona, mulut wanita itu tiba-tiba saja melontarkan kata-kata hijrah agar bisa mengenal dan dekat pria itu.
            “Ternyata gak cuma di mall, taman atau tempat-tempat asyik lainnya yang ada cogan. Di masjid banyak juga, ya?”
            Yurika yang cukup mengerti agama pun hanya tersenyum dan bangkit dari pelataran masjid lalu kemudian segera mengajak Egha pulang agar pikirannya tidak kemana-mana. Di perjalanan, wanita berkacamata itu kembali membicarakan hal yang sama. Sahabatnya heran, kenapa Egha untuk pria yang satu ini lebih agresif dalam bertindak.
            “Ayo ajari aku. Gimana caranya menjadi wanita yang baik sepertimu!”
            “Baik apa, sih? Aku masih belajar sama sepertimu. Egha, kalau kamu mau hijrah itu sangat bagus. Tetapi, niat kamu itu kurang bagus.”
            Egha pun terus mendesak sahabatnya itu agar mau membantunya. Namun, Yurika pun sama. Terus menerus menolak membantu, adu argumen pun terjadi sepanjang jalan. Kedua sahabat itu bersikukuh dengan pendapat masing-masing. Akhirnya, perasaan Egha pun menyerah duluan. Wanita itu langsung marah begitu saja kepada Yurika.
            “Dasar sombong! Lebih baik aku cari orang yang benar-benar bisa membuatku hijrah.” Egha pun melangkah pergi dengan kasar.
            “Egha! Bukan seperti itu. Aku begini karena memang niat awal hijrahmu sudah salah. Niatmu bukan karena Allah. Tetapi, karena pria.”
     “Ya itu tugasmu! Merubah niatku agar semua hijrahku karena Allah. Bukan malah sombong tidak ingin membantuku hijrah”
     Yurika pun menjadi pucat dan terdiam. Ia benar-benar tidak menyangka Egha berpikiran sangat buruk tentang dirinya. Memang, perkataan kawannya itu tidak sepenuhnya salah. Seharusnya, ia membantu Egha untuk hijrah sepenuhnya bukan malah mengabaikannya. Saat ingin minta maaf, semua sudah terlambat. Egha sudah terlanjur kesal dan meninggalkan Yurika yang sedang diam mematung sendirian.
...
     Tiga hari berlalu. Tidak ada obrolan sama sekali dari kedua sahabat yang biasanya setiap menit sudah ada topik obrolan baru yang dibicarakan. Namun, beberapa hari ini keduanya seperti orang asing yang tidak pernah saling mengenal. Sebenarnya, mereka selalu bertemu di masjid tempat dimana Egha melihat pria itu. Tetapi, wanita berkacamata itu datang hanya untuk bertegur sapa dengan Fajrul. Nama pria itu.
     Yurika pun yang tidak tahan berdiam diri terlalu lama dengan Egha mulai melakukan sesuatu agar hubungan persahabatannya bisa kembali seperti semula. Ia dengan sedikit keberanian mendatangi Fajrul. Orang yang belum ia kenal sama sekali.
     “Fajrul Kahfi?” suara Yurika pelan.
     “Iya? Yurika Anisa?” Fajrul menoleh dan spontan menyebutkan nama wanita yang ada di hadapannya.
     Yurika terkejut, kenapa Pria gagah itu bisa tahu namanya. Namun, pikiran itu cepat-cepat dihilangkan. Ia langsung berbicara ke inti permasalahan. Tanpa basa basi ia menyampaikan seluruh uneg-uneg di kepalanya. Setelah bercerita, Fajrul terlihat sangat terkejut.
     “Baiklah! Biar aku mengenalnya terlebih dahulu.”\
     Yurika pun mengangguk sambil tersenyum senang.
...
     Beberapa bulan pun berlalu. Egha dan Yurika hubungannya sedikit demi sedikit telah membaik. Karena, Egha selama beberapa minggu ke belakang mendapatkan respon yang baik dari Fajrul. Secara alamiah, ia pun mengungkapkan kebahagiaan itu kepada Yurika. Wanita berkacamata itu seperti lupa kalau dirinya sedang bertengkar dengan sahabatnya yang memiliki pipi gembul itu.
     Semuanya pun sudah kembali seperti semula. Di ruang tamu rumah Egha. Wanita berkacamata itu memperlihatkan dirinya kepada Yurika dengan penampilan pakaian yang syar`i. Namun, ia memakai pakaian itu masih dengan bermaksud agar Fajrul tertarik bukan karena Allah. Yurika pun tersenyum sambil terus mendoakan Egha agar niatnya segera lurus.
     Saat sedang menunjukkan tampilannya, tiba-tiba suara pintu rumahnya berbunyi menandakan ada orang yang datang untuk bertamu. Egha pun cepat-cepat berlari untuk membukakan pintu. Tetapi, Ibunya duluan yang sampai dan membukakan pintu.
     “Assalamualaikum.” Pria berpakaian rapi itu tersenyum kepada Ibu dan Egha.
     “Waalaikumussalam.” Jawab Ibu.
     Egha tak percaya melihat orang yang saat ini berada di hadapannya. Fajrul sekeluarga  pun masuk dan langsung menyampaikan hajatnya. Egha dan Yurika sama-sama terkejut mendengarnya. Secepat itukah? Egha pun mengangguk-angguk tanda setuju bahwa dirinya menerima lamaran Fajrul. Semua yang berada di rumah itu pun berbahagia walau hanya berkenalan dalam waktu yang singkat. Mereka pun mulai merencakan hari yang tepat untuk hari yang berbahagia itu.
...
     Kedua pasangan itu duduk manis di pelaminan. Terlihat rona kebahagiaan dari Fajrul dan Egha. Tidak sia-sia ia terpaksa hijrah beberapa bulan ini. Hasilnya memuaskan. Ia sangat bahagia. Namun, saat Yurika naik ke pelaminan dan bersalaman dengannya, tiba-tiba saja kata-kata hijrahlah karena Allah masuk ke dalam lerung hatinya. Padahal, Yurika hanya memberikan pelukan hangat kepadanya, tidak ada satu kata pun selain ucapan selamat dari Yurika. Namun, kata-kata lain yang justru masuk ke dalam hatinya.
     “Tunggu dulu. Bukankah jodoh itu cerminan diri? Harusnya bang Fajrul menikah dengan orang yang baik sepertinya. Bukan orang yang pura-pura hijrah sepertiku.” Egha berbicara dalam hati.
     Tiba-tiba suara bisikan kecil menuju telinga Fajrul.
     “Kita cerai, Mas!”
     Fajrul terbelalak mendengar itu. Egha pun menjelaskan semuanya. Wanita berkacamata itu menjelaskan dengan raut muka yang cukup sedih. Selama ini ia hijrah hanya untuk mendapatkan seorang pria. Namun, respon Fajrul saat mendengar cerita Egha pun cukup mengejutkan. Ia juga menangis saat mendengar cerita istrinya itu. Pria tampan itu pun berbalik cerita kepada Egha.
     “Sebenarnya aku sama sepertimu. Aku adalah seorang lelaki hidung belang yang telah memperkosa banyak wanita. Aku pura-pura hijrah agar mendapatkan sahabatmu. Yurika. Karena, dia begitu cantik. Aku harus pura-pura menjadi orang yang baik kalau ingin berdekatan dengannya. Tetapi, saat Yurika datang menemuiku dan berbicara bahwa kau menyukaiku, maka aku mempertimbangkannya dan cukup tertarik karena kamu sama cantiknya. Jadi, kita ini sama-sama berpura-pura. Oleh sebab itu, Allah menjodohkan kita.”
     Keduanya pun menitikkan air mata. Mereka berdua sama-sama menahan air mata agar tidak terlihat tamu undangan. Namun, tentu saja Yurika peka dengan keadaan itu. Ia pun cepat-cepat naik pelaminan kembali dan bertanya. Mereka berdua pun bercerita kepada Yurika. Wanita berpipi gembul itu mengucap takbir. Rencana Allah memang lebih indah.
     “Lalu bagaimana sekarang? Kalian sudah sah loh menjadi suami istri. Kenapa tidak mencoba hijrah sesungguhnya dengan bersama-sama? Kan lebih asik dan romantis.” Yurika tersenyum.
     Egha dan Fajrul pun saling menatap dan raut kesedihannya perlahan-lahan berkurang. Saran Yurika cukup bagus.
     “Tapi, apakah kamu masih menyukai Yurika?”
     “Tidak. Tentu tidak. Kalau masih, kenapa aku mau menikahimu?”
     Egha mengangguk. Kedua pasangan itu pun berhadapan dan saling berpegangan tangan. Mereka berdua pun membuat janji.
     “Setelah ini, kita sama-sama berhijrah sesungguhnya. Berhijrah karena Allah. Bukan karena sesuatu apapun.” Fajrul memimpin pengucapan janji.
     “Siap. Janji!”
     Keduanya pun berpelukan dan melihat Yurika cemberut.
     “Eh udah jangan lama-lama. Ada anak kecil yang belum nikah disini.” Ledek Egha
     “Okey fine. Aku turun sekarang!” Yurika pun turun dari pelaminan disertai canda.
     Fajrul dan Egha pun tertawa bersama. Ternyata memang benar. Jodoh adalah cerminan diri, yang baik dengan yang baik serta yang pura-pura baik maka akan bersama dengan yang pura-pura baik pula.

Kamis, 09 Agustus 2018

Bermain Game itu Dilarang. Kenapa?


Game adalah hiburan yang paling menyenangkan. Tetapi, jangan biarkan game mengatur hidup kita. Tapi, kitalah yang harus mengatur game itu
Assalamualaikum sahabat-sahabatku. Bagaimana judulnya? Bikin bingung ya? Kenapa bermain game itu dilarang? Memangnya dosa ya kalau bermain game? Iya, bermain game itu dilarang kalau….. Simaklah cerita berikut ini,

“Mabar…..Mabar…!” teriak seorang siswa yang bertubuh tinggi.

“Kuy!” Dijawab serentak oleh hampir seluruh siswa laki-laki yang berada di kelas itu.

Saat itu, sebenarnya sedang waktunya jam pelajaran. Namun, guru yang seharusnya mengajar berhalangan untuk hadir dan hanya memberikan tugas kepada murid-muridnya. Bisa disebut situasi ini oleh kebanyakan siswa adalah jam kosong. Ya, jam dimana gurunya tidak ada. Padahal, tetap saja masih mempunyai kewajiban untuk mengerjakan tugas yang diberikan. 
Hampir seluruh siswa laki-laki yang berada di kelas itu pun memilih untuk bermain game mobile legend yang sedang trend itu daripada mengerjakan tugas. Seorang ketua kelas yang memiliki kewajiban menjaga kelasnya itu pun sedikit geram dengan tingkah teman-temannya. Ia pun berkata,

“Woy, ngerjain tugas dulu lah. Gurunya kan udah ngasih tugas. Kalau udah selesai, baru deh main game.”

“Apaan sih, Zal? Lu kalau gak suka main game diem aja, gak usah sok-sok ngatur.”

Memang, Rizal. Si ketua kelas jarang sekali terlihat memainkan handphonenya di kelas. Oleh sebab itu, Aldi pikir ketuanya itu hanya iri karena tidak suka bermain game.

“Lu ngajakin mainnya di waktu yang kurang tepat, Di.”

Rizal dan Aldi pun terus berdebat. Teman-temannya hanya diam mendengarkan perdebatan itu. Akhrinya, moderator datang untuk menghentikan perdebatan itu. Moderator itu adalah seorang guru yang sedang mengajar di kelas sebelah yang cukup terganggu dengan suara berisik dari kelas Rizal.

“Mana gurunya? Kalau gak ada pasti dikasih tugas dong. Kenapa masih berisik?” Ibu guru tersebut berbicara dengan nada kesal.

“Itu bu..” Rizal sang ketua ingin menjelaskan namun dipotong oleh Aldi.

“Itu bu, anak-anak cowok nih. Masa mau main ML. Padahal kan ada tugas. Udah saya bilangin, selesain tugas dulu baru main, eh ini tetep aja mau main. Mabar katanya.” Aldi menjelaskan dan langsung cengengesan sendiri.

Murid-murid laki yang dipojokkan pun tidak terima. Mereka pun berusaha menjelaskan faktanya. Namun, sang guru sudah tidak ingin mendengar penjelasan siapa-siapa lagi.

            “Sudah.. Sudah… Hp itu dibawa buat memudahkan kalian mengerjakan tugas-tugas, bukan bermain game. Kalau ada yang berisik dan ketahuan lagi sedang bermain game di jam pelajaran, akan Ibu sita hpnya dan diproses di bimbingan konseling.” Guru itu pun meninggalkan ruang kelas.

            Karena takut, semuanya pun mengerjakan tugas dan mengheningkan suasana kelas. Namun, Aldi tetap saja ngeyel dan masih ingin mengajak bermain mobile legend. Ia mengajak bermain dengan suara yang kecil. Namun, sekelas mendengar suara itu karena terlalu hening di tempat itu. Saat mendengar ajakan bermain, siswa laki-laki yang tidak terima dituduh Aldi pun bicara,

            “Berisik, Di. Songong banget kita-kita yang dituduh, kan yang ngajakin awalnya itu, Lu. Daripada main game mendingan ngerjain tugas dulu.”

            Namun, Aldi mendengar perkataan itu justru semakin jumawa.
            “Gua cuma menyelamatkan kita aja. Apa yang salah? Yaudah, bisa main sendiri. Diajakin seneng kok gak mau. Aneh lu semua, ketularan Rizal.”

            Tidak ingin berisik. Semua pun menghentikan perdebatan itu, agar Ibu guru tidak datang lagi dan marah kembali. Aldi pun memilih bermain sendiri di saat teman-teman yang lainnya sibuk mengerjakan tugas. Sejam pun berlalu, jam pelajaran sebentar lagi selesai. Semua murid sudah selesai mengerjakan tugas. Hanya Aldi seorang yang masih sibuk menghancurkan tower. Tiba-tiba seorang guru piket datang untuk menagih tugas. Aldi pun cepat-cepat menyembunyikan ponselnya. Ia terkejut ketika diperintahkan untuk mengumpulkan tugas hari ini juga. Pria tinggi itu pun mencari alasan lagi untuk menguntungkan dirinya sendiri.

            “Bu, biasanya tugas dikumpulin pas ketemu gurunya lagi di minggu depan.”

            “Masa? Cukup, Di. Alasanmu terlalu banyak. Semuanya sudah mengumpulkan. Hanya kamu yang belum. Harus hari ini dikumpulkan. Kamu, Ibu kasih waktu buat ngerjain saat jam istirahat. Cepat kerjakan!”

            Dengan malas ia mengambil bukunya;. Ia mengerjakan tugasnya sendirian dengan pusing. Saat pusing, ia selalu mendengar suara-suara dari game mobile legend yang teman-temannya mainkan. Sepertinya, teman-temannya sengaja mengeraskan volume gamenya untuk membalas perbuatan Aldi yang tadi cukup berisik saat mereka mengerjakan tugas. Tiba-tiba, telinganya pun tidak percaya mendengar ucapan dari seseorang.

            “Mabar… Mabar..” teriak seorang ketua kelas.

            Semua murid kelas yang mendengar itu pun tidak percaya. Rizal bermain game online? Rizal pun memberi tahu apa nicknamenya di dalam game. Semuanya pun penasaran dan mencarinya. Saat telah menemukan profilnya, semua berdecak kagum dan terkejut.

            “Lu bermain sampai ranknya setinggi ini?” tanya salah satu siswa.

            Rizal pun hanya tersenyum malu. Aldi yang mendengar itu pun juga penasaran dan mengabaikan tugasnya sebentar. Ia melihat profil akun Rizal dan tidak menyangka. Ranknya lebih tinggi ketua kelasnya daripada dirinya. Padahal, Rizal tidak pernah terlihat sama sekali bermain game di kelas. Ia benar-benar jarang memainkan ponselnya. Aldi pun berkata,

            “Gua kira lu norak. Tidak suka bermain game dan permainan cowok lainnya. Tapi rernyata…” Aldi pun hanya menggeleng-gelengkan kepala tanda masih tidak percaya.

            “Gua juga manusia, Di. Butuh hiburan. Sebenarnya, Gua gak pernah kelihatan main game di kelas karena waktunya tidak tepat buat bermain game. Sekolah kan waktunya belajar bukan main game. Nah sekarang kan lagi jam istirahat, tugas udah selesai. Jadi, apa salahnya bermain?”

            Aldi pun mengangguk-angguk tanda paham dengan penjelasan Rizal. Bermain game itu dilarang kalau waktunya sedang tidak tepat. Seperti bermain game di saat bekerja, bermain game di saat panggilan Allah sudah terdengar, dan lain sebagainya. Aldi pun langsung tersenyum dan berkata,

            “Yaudahlah, mabar! Jangan hanya liat ranknya doang yang legend. Skillnya cobalah diadu. Heheh."

            “Okey. Siapa takut? Eits, tapi ini bukan waktu yang tepat buat lu bermain.”

            “Kenapa? Ini waktunya istirahat.”

            Rizal pun hanya memberikan isyarat bahwa ada sebuah buku di mejanya yang menunggu untuk diselesaikan. Aldi pun hanya menggaruk-garuk kepalanya. Ia lupa dengan tugasnya. Akhirnya, Rizal dan teman-teman cowoknya yang lain membantu Aldi mengerjakan tugasnya. Setelah selesai, mereka masih ada waktu untuk bermain bersama. Jadi, silahkan bermain game bila memang ada waktu luang dan sedang tidak ada kesibukan yang harus diselesaikan.


            Alhamdulillah, sahabat-sahabatku yang gamers mana suaranya? Hehe. Bagaimana waktu bermain gamenya? Apakah sudah bisa mengatur waktu dengan baik? Serta bermain game sesuai porsinya? Jadi, game itu adalah hiburan yang diperbolehkan. Tetapi, game bisa menjadi dilarang karena eh karena kita tidak bisa mengatur waktu dengan baik. Terkadang, game membuat kita lalai untuk beribadah kepada Allah. Suara adzan terkadang kalah dengan suara dari game kita.

            Oleh sebab itu, bila kita bermain game sesuai porsinya dan tidak berlebihan maka itu bisa menjadi sebuah hiburan untuk kita. Namun, bila berlebihan maka bisa menjadi ancaman untuk kita. Dampaknya sangat banyak bila kita berlebihan bermain game. Seperti mata menjadi rusak. waktu terbuang, dan tidak produktif dalam melakukan kegiatan. Mari, kita atur waktu main game kita. Sekarang ada waktu luang? Kuy main. Sekarang lagi sibuk? Matikan ponsel dan komputer kemudian bersegeralah menyelesaikan pekerjaan itu lalu bila butuh hiburan maka bermain gamelah dengan porsi yang tepat. 

Perlukah Dukungan Orang Lain?

Dalam hidup ini, interaksi tidak bisa dielakkan oleh manusia. Semua orang harus berinteraksi satu sama lain. Karena, itu adalah kebutu...